News

Kemenhut Fokuskan Proyek Leverage pada Konservasi Hutan Sumatra

Jakarta (KABARIN) - Kementerian Kehutanan atau Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menempatkan konservasi hutan Sumatra sebagai prioritas utama dalam proyek kerja sama bertajuk Law Enforcement for Sustainable Viable Ecosystems and Biodiversity Resilience through Multi Sectors Engagement atau Leverage bersama United Nations Development Programme.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat tata kelola kehutanan melalui pendekatan berbasis data. Ada tiga peta utama yang dikembangkan, yakni peta kerawanan, peta gangguan, dan peta penanganan kawasan hutan.

"Kita mengembangkan tiga hal, yaitu peta kerawanan, peta gangguan, dan peta penanganan. Ini yang harus kita kembangkan dalam tata kelola kehutanan, yakni sejauh mana kerawanan suatu kawasan bernilai konservasi tinggi, khususnya di Sumatra," kata Dwi di Jakarta, Rabu.

Ia menyebut Sumatra dipilih sebagai lokasi awal karena memiliki banyak kawasan bernilai konservasi tinggi sekaligus tingkat gangguan yang cukup tinggi. Berbagai kasus seperti perburuan dan kejahatan terhadap satwa liar juga banyak terjadi di wilayah tersebut.

Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya melihat kondisi hutan dari satu sisi, tetapi juga dari pola gangguan dan efektivitas penanganan di lapangan. Hal ini penting karena modus kejahatan kehutanan terus berkembang dan semakin kompleks.

"Pemilihan Sumatra juga mempertimbangkan peta gangguan. Kalau kita bicara berbagai kejadian yang terjadi, banyak yang berada di Sumatra. Ini juga menjadi keprihatinan kita," ujar dia.

Dalam proyek ini juga disusun peta penanganan untuk mengevaluasi bagaimana aparat dan pihak terkait menangani kasus seperti perburuan satwa dan kejahatan terhadap spesies yang dilindungi. Evaluasi ini diharapkan bisa memperkuat langkah pencegahan di masa depan.

Proyek Leverage sendiri berjalan selama enam tahun dengan nilai pendanaan sekitar 14,4 juta dolar Amerika Serikat. Sumatra dijadikan lokasi percontohan sebelum pendekatan ini diperluas ke wilayah lain di Indonesia.

Dwi menegaskan bahwa hasil pembelajaran dari Sumatra akan menjadi acuan untuk diterapkan di daerah lain, sehingga upaya perlindungan hutan bisa lebih merata dan efektif di seluruh Indonesia.

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: